Click here for Myspace Layouts

Jumat, 16 Maret 2012

YOGI FINANDA



Yogi Finanda (lahir di Jakarta, 22 Desember 1979; umur 32 tahun) adalah seorang aktor film dan sinetron Indonesia.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Karier

Pria setinggi 175 cm ini telah membintangi sinetron Pacar Khayalan dan Sepatu Kaca serta film Eiffel I'm in Love. Pria yang beragama Islam ini mempunyai hobi bermain basket, berenang, friendster, dan ping-pong.
Pada tahun 2008, Yogi bermain dalam film Planet Mars bersama Putri Indonesia 2004, Artika Sari Devi.

[sunting] Filmografi

[sunting] Sinetron

[sunting] Video Klip

  • Kasih Tak Sampai (Padi)

[sunting] FTV

  • Pacar Ke 17 (Bersama Ida Ayu Kadek Devi)
  • Cinta Keju Rasa Mocca (Bersama Ida Ayu Kadek Devi)
  • Panggil Aku Cinta Bukan Laura (Bersama Yasmine Leeds Wildblood)
  • Mondy dan Rumy (Bersama Sharena Rizki dan Dinda Kirana)

[sunting] Prestasi

  • Nominator Most Favorite Model Video Klip MTV Award (Padi)
  • Nominator Most Romantic Moment MTV Award (Eiffel I'm In Love)

AULIA SARAH



Aulia Sarah (lahir di Jakarta, 6 Juli 1991; umur 20 tahun) adalah model dan pemeran Indonesia.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Karier

a memulai karier dengan mengikuti pemilihan GADIS Sampul pada tahun 2005. Pada pemilihan tersebut Aulia terpilih menjadi finalis.

[sunting] Dunia film

Dunia film diawali gadis berdarah Sunda-Jawa ini dengan mengambil peran-peran kecil di film Kawin Kontrak dan juga Drop Out.[1]
Aulia mendapatkan peran utama pertamanya sebagai Almira, cewek punkers yang bersahabat dengan 3 cowok punk Mojo, Yoji, dan Arok dalam film Punk In Love.[2] Film Aulia sebelumnya yang berjudul Urbani Seksi dibredel dan dilarang untuk ditayangkan.[3]

[sunting] Filmografi

[sunting] Sinematografi

[sunting] FTV

 

VINO G BASTIAN




Vino Giovani Bastian (lahir di Jakarta, 24 Maret 1982; umur 29 tahun) adalah seorang aktor film asal Indonesia. Vino adalah putra bungsu Bastian Tito, penulis cerita silat yang terkenal lewat seri Wiro Sableng.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Karier

Di bangku SMP, ia mulai bermain musik sebagai penabuh drum. Ia kemudian menjadi seorang model dan pada tahun 2004 melakukan debutnya sebagai aktor lewat film 30 Hari Mencari Cinta. Dalam film arahan sutradara Upi Avianto tersebut, Vino memerankan karakter seorang pria yang ternyata homo. Film itu dibintanginya bersama aktris Nirina Zubir, Maria Agnes, Dinna Olivia dan Revaldo Fifaldi.
Akting pria yang kini tengah berpacaran dengan Elsa Paramita ini dalam film perdananya tersebut membuat Erwin Arnada, direktur Rexinema, untuk memasang kembali Vino dalam film Catatan Akhir Sekolah (2005) arahan sutradara Hanung Bramantyo. Dengan arahan sutradara Upi Avianto, Vino bermain dalam film Realita, Cinta dan Rock'n Roll (2006). Film produksi Virgo Putra Film tersebut dibintanginya bersama Herjunot Ali dan puteri Indonesia Nadine Chandrawinata. Tawaran film pun menyusul secara deras kepadanya, di antaranya Pesan Dari Surga (2006) dan remake Badai Pasti Berlalu 2007 (2007). Ia meraih penghargaan FFI sebagai Best Actor dan penghargaan Indonesian Movie Awards sebagai Favorite Actor, Best Couple dan Favorite Couple (bersama Fahrani) untuk perannya dalam Film Radit dan Jani.
Tahun 2009 Vino berhasil menggeser Tora Sudiro dari puncak dan menempati peringkat 1 aktor film Indonesia dengan bayaran termahal (Indonesia's Highest-Paid Actor) dengan honor Rp 250 Juta per film.[1]

[sunting] Filmografi

[sunting] FTV

  • Bos Ku Malang Bos Ku Sayang (Bersama Masayu Anastasia)
  • Selalu Untuk Selamanya (Bersama Bunga Zainal)
  • Bejo Bilang Cinta
  • Lost in Solo
  • Cinta Berawal dari Fesbuk
  • Jomblo karena Cinta
  • Kekasih untuk Benny
  • Separuh Jiwaku Kembali
  • Cinta Di antara 3 Perempuan
  • Di Binatu Ada Cinta

[sunting] Sinetron

  • Calon Bini
  • Arini
  • Arini 2

ANDHIKA PRATAMA



Sulung dari tiga bersaudara pasangan Weddy Subagyo dan Sherly Hesti Erawati ini memulai karier menyanyi di bangku SMU, setelah bergabung sebagai vokalis di sebuah band yang kerap manggung dari kafe ke kafe. Bahkan setelah lulus dari SMU Negeri 8 Malang, Andhika berniat kuliah di sekolah seni. Namun karena orang tuanya melarang, cowok berdarah Jawa, Belanda, dan Tionghoa ini akhirnya kuliah di STIE Malangkucecwara mengambil jurusan Ekonomi Akuntansi.
Saat grup bandnya mendapat tawaran manggung di Bali, Andhika malah memilih untuk mengunjungi omanya di Jakarta. Oma kesayangannya di Jakarta pula yang menyarankan Andhika untuk mengirimkan foto dan biodata pribadinya di berbagai rumah produksi dan manajemen artis. Debut aktingnya adalah FTV Saat Maut Menjemput. Andhika mendapatkannya setelah lima bulan mengikuti casting. Dalam FTV itu, Andhika berperan sebagai Elang, mahasiswa Universitas Trisakti yang tertembak pada Mei 1998. Beberapa sinetron lain yang pernah dibintangi oleh Andhika antara lain Dewa Asmara Mencari Cinta, Mak Comblang, dan Hati-Hati Jatuh Cinta.
Pada tahun 2006, Andhika memulai debutnya di dunia layar lebar. Andhika bermain dalam film garapan perdana Tengku Firmansyah, D'Girlz Begins. Setelah itu datang tawaran untuk membintangi film horor Lewat Tengah Malam (2007) bersama Joanna Alexandra dan Cathrine Wilson. Pada tahun yang sama, Andhika juga membintangi Love is Cinta bersama Raffi Ahmad, Irwansyah, Acha Septriasa, Henidar Amroe, dan Tio Pakusadewo.
Nama Andhika melejit setelah diajak oleh Melly Goeslaw untuk duet dalam soundtrack film The Butterfly sekaligus membintanginya.[1] Sebenarnya ini bukan film pertama Andhika menyanyikan soundtrack, dalam film Love is Cinta, Andhika juga urun suara menyanyikan soundtrack-nya.[2]
Tahun 2008, Andhika bermain lagi dalam film layar lebar bergenre drama romantis. Dalam film Ada Kamu, Aku Ada yang dibintanginya bersama Bunga Citra Lestari, Andhika juga bermain sebagai musisi.[3]

[sunting] Filmografi

[sunting] Sinetron

PUNK IN LOVE






Kamis, 15 Maret 2012

Punk In Love

Punk In Love merupakan film Indonesia yang dirilis pada 9 Juli 2009 yang disutradarai oleh Ody C. Harahap. Film ini dibintangi antara lain oleh Vino G. Bastian, Andhika Pratama, Yogi Finanda, Aulia Sarah, Catherine Wilson, Girindra Kara, dan Davina Veronica.

[sunting] Sinopsis

Almira (Aulia Sarah), Arok (Vino G. Bastian), Mojo (Yogi Finanda), dan Yoji (Andhika Pratama) adalah 4 anak punk yang berasal dari Malang. Suatu hari, Arok berniat bunuh diri dengan meloncat dari kantor Departemen Agama setelah mendapat kabar bahwa pujaan hatinya Maia (Girindra Kara) hendak menikah dengan pemuda lain di Jakarta 5 hari lagi. Untunglah aksi tersebut dapat dicegah oleh 3 sahabatnya, lalu Arok berinisiatif ke Jakarta untuk menggagalkan pernikahan Maia dan menyatakan cinta kepadanya. Setelah berpamitan dengan ibu Mojo (Hani) di kuburan, keempat anak punk tersebut ikut naik truk merah menuju Yogyakarta, dan dari sana mereka berencana mencari tumpangan lain ke Jakarta.
Malangnya, mereka terbawa truk yang salah. Alih-alih ke Yogya, mereka malah terbawa ke Gunung Bromo. Malam hari terpaksa mereka lewatkan dengan tidur di emperan warung. Paginya, mereka membantu pemilik warung bersih-bersih, sambil bersih-bersih Arok mengutil 1 cincin dipikirnya sebagai tanda cintanya kepada Maia. Setelah bersih-bersihnya selesai sebagai imbalannya, mereka dijamu makan di sana. Menumpang jeep, mereka berempat menuju ke barat. Jeep tersebut membawa mereka ke Makam Bung Karno di Blitar. Mojo yang mengagumi sosok Bung Karno mendeklamasikan teks proklamasi di depan makam. Setelah itu, mereka menaiki mobil rusak yang diderek ke Cepu. Di dalam mobil, mereka berdiskusi hebat mengenai masalah anti-kemapanan.
Di tempat tujuan, mereka bertemu dengan seorang penjual sate Madura (Suro) dan meminta buatkan 40 tusuk sate. Namun karena keempat anak punk tadi memberi tukang sate itu dengan uang Rp6.000,-, tukang sate itu marah sambil menghunus celurit. Hampir saja keempat anak punk itu dihabisi kalau Arok tidak meneriakkan kata-kata penyesalan untuk Maia karena tak berhasil menyatakan cinta. Tukang sate itu mengampuni mereka atas dasar kesamaan nasib. Dirinya gagal menikah dengan pujaan hatinya Tiwi karena orang tua Tiwi berniat menjodohkan anaknya dengan seorang juragan garam. Tidak itu saja, mereka dibolehkan membeli 20 tusuk sate tanpa lontong seharga Rp6.000,- asalkan mereka sendiri yang membakar. Almira, Arok, Mojo, dan Yoji meneruskan perjalanan ke Semarang dengan menumpang minibus. Di tengah perjalanan, Yoji merasa ingin buang air besar akibat sate yang dimakan semalam. Akhirnya, Yoji buang air besar di jendela, tapi tinjanya malah mengenai mobil di belakangnya, yang ternyata dikemudikan anggota TNI-AD (Rudy). Sebagai hukuman, Arok, Mojo, dan Yoji dihukum push-up di depan sebuah kelenteng, sementara Almira disuruh membersihkan tinja yang bercokol di kaca mobil.
Mereka meneruskan perjalanan ke Rembang. Di permukiman Tionghoa di pinggir pantai, Mojo melihat poster bergambar Yoji yang sedang main basket. Mojo tertawa karena merasa pose Yoji konyol, sehingga mengundang 3 sahabatnya mendekat. Setelah mengamati, Almira dan Arok juga ikut tertawa. Tinggallah Yoji yang marah dan meninggalkan mereka ke pinggir pantai. Almira menyusul dan mengatakan kalau Yoji terlihat menjijikkan di poster itu. Akhirnya, Yoji ikut tertawa.
Setelah itu, mereka menumpang truk pengangkut tepung terigu ke Semarang. Di Semarang, mereka turun di suatu tempat yang sedang dilanda banjir. Terpaksalah Arok, Mojo, dan Yoji berjalan sambil menggotong Maia yang tentunya tidak mungkin menanggalkan pakaian bawah. Akhirnya, mereka semua tercebur ke air karena Yoji merasa ada yang lewat di kakinya. Malam harinya, mereka menumpang kereta api barang setelah membantu membereskan sampah yang dibawa seorang pemulung tua (Saputra). Selama perjalanan, Arok bermimpi disodomi oleh bapak-bapak (Hartawan) yang memisahkan dirinya dengan Maia dan teman-temannya menertawakannya. Setiba di Stasiun Notog (Banyumas), mereka menumpang mobil ambulans yang membawa mereka ke Cirebon. Perjalanan ini diwarnai dengan sopir (Rombeng) yang terkantuk-kantuk, sehingga ugal-ugalan dalam mengemudikan mobil. Keempat anak punk itu ketakutan. Mengikuti Mojo, mereka berdoa kepada Tuhan agar selamat dalam perjalanan, padahal sebelumnya Almira, Arok, dan Yoji mengingkari keberadaan Tuhan.
Setiba di Cirebon, mereka semua kelaparan. Yoji dan Almira mengamen di jalanan dengan menyanyi dangdut dan berjoget. Arok dan Mojo awalnya tidak mau ikut karena malu ketahuan bergaya dangdut oleh grup punk lain, tapi demi perut akhirnya mereka turut pula meramaikan. Seusai makan nasi bungkus, Almira kelabakan karena datang bulan. Mereka berempat segera datang ke sebuah warung membeli 2 pembalut, dan pemilik warung (Otig Pakis) menyediakan 2 bungkus. Arok merobek salah satu bungkusan dan menunjukkan 2 lembar pembalut karena uangnya kurang. Pemilik warung marah dan menuntut mereka membayar bungkusan yang dirobek. Lalu Almira terlibat bisik-bisik dengan Arok dan Mojo dan merencanakan untuk melempar uang dan membawa lari bungkusan, sementara Yoji berusaha membujuk pemilik warung. Tak dinyana, karena mendengar 3 anak punk itu berbisik-bisik dalam bahasa Jawa dialek Arekan/Jawa Timuran, pemilik warung itu mengizinkan 2 pembalut bungkus itu dibawa karena ternyata ia berasal dari Malang.
Pada malam harinya, Arok dkk. hendak meneruskan perjalanan ke Jakarta, tapi ternyata Mojo tampak lemah. Setelah diperiksa, ternyata luka di kakinya – akibat terjatuh saat menggotong Almira di Semarang – terinfeksi kuman tetanus. Mereka pun datang ke klinik terdekat, namun ditolak masuk oleh resepsionis (Andhika Dharmapermana) dan satpam yang beralasan klinik penuh. Sambil mengeluarkan sumpah serapah, Arok putus asa dan hendak pulang ke Malang, karena percuma saja membawa serta Mojo yang sedang sekarat ke Jakarta. Terbata-bata Mojo berkata untuk jangan pulang ke Malang, karena akan sia-sia saja bila dirinya kelak mati bila sahabatnya gagal meraih keinginannya. Akhirnya, Arok dan Yoji berinisiatif menculik dokter klinik (Aline Jusria) tersebut yang baru pulang kerja, dan memintanya mengobati Mojo.
Mereka akhirnya tiba di Stasiun Jatinegara, Jakarta. Memasuki jalanan yang padat, Arok menunjukkan cincin yang dicurinya dari toko cenderamata di Bromo untuk diserahkan kepada Maia. Ketiga sahabatnya marah karena semestinya cincin itu bisa dijual untuk makan. Mojo yang emosi menonjok muka Arok, dan tanpa sengaja menubruk seorang pejalan kaki. Pejalan kaki itu menubruk seseorang yang duduk di warung, yang ternyata Leo (Dendy Subangil), preman di wilayah itu. Leo menghajar si pejalan kaki, yang kemudian menunjuk Arok sebagai orang yang menubruknya. Akhirnya Leo melepas pejalan kaki, dan gantian menyerang Arok dan membuatnya terkapar. Polisi keburu datang, lalu Leo melarikan diri bersama anak buahnya. Sebelum itu, ia sempat membawa cincin Arok yang terjatuh.
Jadilah keempat anak punk itu masuk penjara. Atas bujukan Maia, Yoji menghubungi Tante Rossa (Catherine Wilson) yang dahulu membawanya menjadi model. Tante Rossa mengeluarkan keempat anak punk itu dengan memberi jaminan, dengan syarat Yoji harus ikut 3 kali sesi pemotretan. Yoji awalnya enggan, tapi akhirnya menyanggupi. Mereka segera pergi ke tempat pengantin. Di tengah jalan, Arok melihat Leo sedang berada di warung bersama anak buahnya. Arok meminta mobil berhenti, dan keluar lalu menantang Leo berkelahi. Setelah itu, ia segera melarikan diri bersama dengan 3 sahabatnya dan Tante Rossa. Leo dkk. mengejar, dan mencegat mereka berlima di sebuah perkampungan. Lalu datang Ekay (Ade Habibie) dan anak buahnya. Ekay menyuruh agar Arok dan Leo menyelesaikan masalahnya sendiri menggunakan tangan kosong. Pada awal pertarungan, Arok babak belur, tapi setelah Maia datang dan memberi semangat, Arok terbakar semangatnya dan bertubi-tubi menghajar Leo sampai babak belur. Akhirnya Arok mendapatkan cincinnya dan memasangkannya ke jari Maia sambil menyatakan cinta. Maia ternyata juga mencintai Arok. Mendadak, seorang pemuda bernama Andra (Dallas Pratama) yang sedianya hendak menikah dengan Maia bertanya kepada calon isterinya itu, pilih Arok atau dirinya. Maia memilih Arok, tapi itu malah membuat Andra bersyukur karena sesungguhnya dirinya belum siap menikah. Itulah sebabnya, mengapa selama beberapa hari sebelum hari pernikahannya, Andra ogah-ogahan mengurusi persiapan nikah dan tenggelam dalam aktivitas grup musiknya. Bersamaan itu pula Yoji menyatakan cintanya pada Almira.
Film ditutup dengan Arok dan Maia yang sedang mengandung menyambut pelanggan di depan Warung Maia Arok yang didirikannya, Yoji yang menjadi model, dan Mojo – yang dahulunya penggali kubur – mewujudkan impiannya menjadi aktor.